Sabtu, 21 Juni 2014

KOMUNIKASI ANTARPERSONAL UNITRI



MASALAH DALAM HUBUNGAN ANTARPERSONAL
(PERCERAIAN)


Dalam menjalani kehidupan kita sebagai manusia, kita tidak dapat lepas dari sebuah konflik. Apalagi di saat kita akan atau sudah menjalani hubungan dengan individu lain, baik hubungan dengan teman, pacar, maupun antara suami istri, pasti konflik akan selalu timbul. Mengapa konflik itu terjadi? Setiap manusia memiliki perbedaannya masing-masing. Perbedaan inilah yang memicu terjadinya sebuah konflik. Perbedaan kepentingan antar individu, perbedaan pendapat, dan perbedaan yang lainnya. Dalam teori pertukaran sosial menyatakan bahwa kepentingan pribadi tidak selalu dianggap buruk dan dapat digunakan untuk meningkatkan suatau hubungan (West, Turner, 2008). Tidak semua masalah menjadi sebuah malapetaka dalam hubungan tersebut, jika kita dapat menanggapinya dengan positif. Sebaliknya jika ditanggapi dengan negatif  maka konflik tersebut merupakan awal dari kehancuran hubungan. Dalam kenyataanya yang ditemui sehari-hari kebanyakan masalah menjadi malapetaka. Hal ini akan berujung pada kehancuran hubungan, dan terkadang sulit untuk diperbaiki lagi. Terkadang konflik tersebut dapat berimbas kepada orang lain. Misalkan konflik antara sesama teman akan menyebabkan teman yang lain ikut membenci salah satu teman tersebut, konflik dalam hubungan pacar akan melibatkan teman yang lain yaitu temannya harus selalu bersedia untuk mendengar curhatannya tentang konflik dengan pacarnya tersebut. Lebih parahnya lagi konflik antara suami istri yang akan melibatkan anak-anak mereka dan masing-masing keluarga dari kedua belah pihak. Konflik yang tidak terselesaikan dapat merusak lingkungan sosial sekitar sekaligus orang-orang di dalamnya (Pegertian manajemen, 2013). Konflik dalam sebuah hubungan tidak bisa dianggapa hal yang sepeleh karena dapat berdampak ke hal-hal atau orang-orang disekitarnya.
            Di era modern ini, perceraian semakin sering terjadi.  Bukan hanya pasangan lama yang sudah menikah bertahun-tahun, namun juga pasangan muda yang baru saja menikah.
Terkait dengan konflik, perceraian merupakan salah satu dampak dari konflik yang tidak terselesaikan akibat keegoisan masing-masing individu tanpa memikirkan konsekuensinya. Perceraian sebenarnya bukan suatu solusi yang tepat dalam konflik antara suami dan istri. Karena dengan adanya perceraian akan muncul konflik yang baru lagi. Konflik baru tersebut akan terjadi pada mereka lagi atau malah akan terjadi pada orang-orang yang sangat membutuhkan mereka.
Berikut adalah sebuah contoh kasus :
Minta hak asuh anak, Dea Mirella cibir Eel Ritonga
Merdeka.com - Masalah baru dialami oleh Dea Mirella pasca bercerai dengan Eel Ritonga pada 2010 silam. Belakangan Eel meminta hak asuh atas anaknya, Melody Zahira Chielda Ritonga (8). Namun permintaan tersebut langsung mendapat cibiran dari Dea.
"Saya enggak banyak omong, orang tahu siapa saya dan Eel," kata Dea di bilangan Pondok Labu, Jakarta Selatan (7/12). "Siapa sih yang ninggalin Melody. Tiba-tiba beberapa tahun ninggalin mau diminta," lanjutnya.
Ditambahkan oleh mantan personil grup vokal Warna itu, bahwa selama ini Eel juga tak memberikan nafkah sebagaimana mestinya.
"Kok nggak kasian sama anaknya. Sekarang mau ngambil Melody, ngasih makan aja ala kadarnya," tuturnya.
Dea meminta mantan suaminya itu untuk berkaca sebelum berucap. "Sekarang dia (Melody) umur 8 tahun apa yang udah dia kasih? Ipad aja patungan saja sama saya. Kalau minta hak perwalian ngaca dulu," tandasnya.
Sumber:

            Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa konflik dalam hubungan interpersonal akan berdampak pada orang lain. Dalam kasus ini berdampak pada anak mereka. Anak mereka juga akan menjadi kebingungan memilih antara kedua orangtuanya. Dan hal ini juga akan berpengaruh pada proses perkembangan anak. Perceraian bisa jadi salah satu hal yang paling mempengaruhi perkembangan anak (Ayahbunda, 2013 ). Apapun reaksi anak terhadap perceraian orang tuanya, perkembangan emosional merupakan aspek yang paling terganggu. Selain itu perkembangan konsep diri anak  dapat saja ternganggu karena menyaksikan orangtua yang kerap bertengkar.
Namun tak semua anak mesti sengsara karena perceraian ayah dan ibunya. Ada juga anak dari keluarga bercerai tapi dapat bahagia dan tidak lagi menyimpan kemarahan pada orang tua. Ini mungkin terjadi jika orang tua cepat menyadari apa yang diperbuat dan tidak mengubah perlakuan mereka terhadap anak-anaknya. Kesalahan mungkin dilakukan ayah dan ibu, tapi anak-anak tetap patut mendapatkan kehidupan yang layak.
            Masih terkait dengan contoh kasus diatas, telah disebitkan bahwa percerain bukanlah sebuah solusi dari sebuah konflik yang tepat, karena perceraian justru akan menambah sebuah konflik yang baru lagi. Sebenarnya sebuah solusi itu berfungsi untuk meredahkan emosi antara kedua belah pihak. Dalam kasus ini sangat jelas kita lihat bahwa perceraian menimbulkan maslah baru lagi yaitu masing-masing kedua belah pihak meminta hak asuh anak. Dan karena itulah anak merasa tak dihargai orangtuanya sehingga membalas dengan bertindak semaunya dan menjadi pembangkang, selalu melawan orangtua (Relationship, 2013)
Apa penyebabnya?
            Sebenarnya apa yang menjadi pemicu terjadinya suatu perceraian jika di tinjau lebih dalam lagi? Mengapa banyak orang yang ingin dekat dengan seseorang, berakhir di perceraian yang sering dipenuhi dengan kemarahan dan kekecewaan? Banyak orang yang ingin menikah mencoba memperjuangkan suatu ikatan yang kuat dan langgeng hanya berdasarkan pada emosi. Dalam banyak hubungan, cinta dan penerimaan berlanjut sepanjang orang lain itu menemukan suatu tingkat harapan tertentu. Jika perasaan sedang hangat, seorang suami dan istri bisa membantu orang lain, mengabaikan suatu masalah dan karakter yang menyebalkan dari partnernya, cukup komunikasi, dan masih mengekspresikan perasaannya.
Namun ketika perasaan sedang mendingin, salah satu atau keduanya mendapati bahwa mereka tidak memiliki kesediaan atau kemampuan untuk mencintai seseorang yang dengan sangat jelas tidak sempurna. Tidak ada kebutuhan yang dipenuhi, yang menyebabkan luka, menimbulkan keadaan membela diri, mengurangi komunikasi positif, meningkatkan kesalahpahaman, memancing konflik, mengobarkan kemarahan dan kepahitan. Jika pengampunan dan perbaikan hubungan tidak memutus rantai permasalahan ini, kemampuan untuk saling mencintai sangatlah lemah.
Pola ini hampir di semua hubungan bisa dihindari untuk sementara sepanjang hal-hal yang memancing egoisme tidak ada atau telah diatasi. Namun, cepat atau lambat kenyataan akan mengujinya. Dalam kebencian akan tujuan-tujuan terbaik pasangannya, mereka akhirnya menyadari bahwa dua orang yang merdeka tidak memiliki semua yang mereka perlukan.
Hiffington Post (dalam Whooila, 2011) tercatat hasil statistik dunia mengenai peceraian ada 10 (sepuluh) negara dengan tingkat perceraian paling tertinggiyaitu, Rusia, Belaris, Ukraina, Moldova, Kepulauan Cayman, Amerika Serikat, Bermuda, Kuba, Lithuania, dan Republik Ceko. Dan penyebab terjadi perceraian berdasarkan survey bahwa membangun sebuah keluarga dengan keyakinan masing-masing dan tidak mengandalkan Tuhan.
Dalam Esensi (2013) terdapat sepuluh penyebab terjadinya perceraian, yaitu:
1. Masalah keuangan.
Masing-masing pihak harus selalu terbuka mengenai kebutuhan finansial mereka. Sebenarnya masalah ini bukan masalah sebenarnya, ini lebih pada komunikasi antar suami dan istri.  Jadi, bagaimana cara pasangan menghadapi masalah inilah yang bisa menjadi jalan keluar.
2. Masalah komunikasi.
Jika pasangan sudah memiliki masalah komunikasi sejak sebelum menikah, maka kemungkinan besar problem itu akan menjadi semakin buruk  setelah perkawinan.  Dalam situasi ini, yang penting masing-masing pihak memiliki niat  untuk membahas secara terbuka masalah dan kelemahan masing-masing. Tanpa komunikasi dua arah, perkawinan tak akan bertahan lama.  
3. Masalah keluarga.
Hubungan antar anggota keluarga, orang tua dan anak, saudara sekandung, saudara ipar  atau adanya anak tiri, bisa menjadi sumber masalah bagi hubungan suami istri. Sikap yang bijaksana adalah bagian penting dari keberanian dalam menghadapi berbagai masalah keluarga dan perkawinan.
4. Masalah seks.
Seks merupakan bagian penting dalam perkawinan sekaligus juga bisa menjadi sumber banyak masalah dalam perkawinan. Setiap perkawinan membutuhkan proses penyempurnaan antara lain dengan aktivitas bercinta.  Kegagalan dalam kehidupan sek yang sehat, adanya jurang frekuensi hubungan seks atau seks yang tidak berkualitas, bisa menjurus pada hancurnya perkawinan.  
5. Kedekatan dengan teman.
Hubungan pertemanan yang terlalu dekat baik oleh suami maupun istri bisa juga menjadi sumber gangguan pada hubungan suami istri.  Teman yang sejati seharusnya mampu mengeratkan hubungan antar suami-istri.  
6. Masalah ketergantungan.
Narkoba, alcohol, judi, semua itu  adalah kebiasaan buruk yang membuat ketagihan dan ketergantungan dan sangat merusak perkawinan.  Meski tidak disertai dengan tindak kekerasan, perilaku ketergantungan akan membuat perkawinan menjadi hal yang mustahil.   Selain itu, ketergantungan juga bisa menjadi pangkal dari masalah keuangan dalam  rumah tangga. 
7. Kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan atau penyiksaan dalam bentuk apapun tidak bisa diterima dalam perkawinan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan dalam kata-kata, keduanya sering menjadi penyebab hancurnya rumah tangga.
8. Masalah kepribadian.
Ada banyak tipe –tipe kepribadian yang bisa menyebabkan ketidakcocokan antar pasangan.  Baik ketidakcocokan dalam hal seks, intelektualitas maupun emosi. Pasangan yang memiliki kebutuhan berlebihan untuk disenangkan atau direndahkan pasangannya bisa menghalangi terjalinnya komunikasi yang sehat.
9. Masalah ekspektasi.
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan perkawinan sering tergantung pada adanya harapan-harapan yang realistis dari masing-masing pihak terhadap pasangannya. Jika ada harapan-harapan romantisme yang terlalu muluk dan tidak realistis, maka hal ini bisa menjadi pangkal dari keretakan suami-istri.  Agar perkawinan dapat bertahan, memang dibutuhkan tingkat kedewasaan dari suami mapun istri.     
10. Masalah waktu.
 Salah satu pihak harus selalu pandai membagi waktu dengan pasangannya agar pasangannya tidak merasa asing. Pekerjaan dan jadwal kegiatan di rumah seringkali tidak saling bersesuaian. Suami maupun istri, masing-masing memerlukan waktu kebersamaan maupun waktu untuk diri sendiri. Dan keterampilan untuk mengimbangi kedua hal tersebut sangatlah penting dalam menjaga keutuhan perkawinan.
Ada beberapa saran agar terhindar dari sebuah perceraian, antar lain:
1.      Membangun atau memulai  sebuah hubungan dengan Tuhan.
Menganggap pasangannya adalah titipan dari Tuhan. “Pernikahan, memberikan nasihat dalam hidup kita, Dia ingin agar kita mengenalNya, berhubungan denganNya, dan percaya kepadaNya" (Rainey,2011 )
2.      Dalam memilih pasangan harus memiliki komitmen yang sama. Cinta bukanlah syarat tunggal untuk menikah.
3.      Harus saling mengalah dalam menghadapi sebuah konflik. Lebih baik mengorbankan diri jika dibandingkan dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai.
4.      Harus selalu bekerja sama dalam menghadapi segala ujian dalam hubungan tersebut. Mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Dan menyelesaikannya juga harus dengan pikiran yang tenang.
5.      Membangun pola komunikasi yang baik dan efektif. Setiap konflik yang dihadapai akan terasa mudah jika saling bertukar pikiran.
Dapat disimpulkan bahwa  dalam kehidupan interpersonal  kita ini tidak dapat lepas dari sebuah konflik, karena kita adalah makhluk sosial dengan masing-masing pemikiran yang berbeda-beda, maka dari itu harus pandai-pandai mencari sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi konflik tersebut.  Demi langgengnya suatu pernikahan, kerjasama sangat diperlukan dan keduanya harus menolak banyak harapan-harapan pribadi mereka. Pengorbanan diri harus menggantikan keegoisan. Sebagai manusia ciptaan Tuhan, selalu patut bersyukur kepada-Nya atas semua kehidupan yang diberikan-Nya. Baik dalam suka maupun Duka. Tuhan tidak pernag meninggalkan orang-orang yang membutuhkan-Nya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar