MASALAH DALAM HUBUNGAN
ANTARPERSONAL
(PERCERAIAN)
Dalam menjalani kehidupan kita sebagai manusia, kita
tidak dapat lepas dari sebuah konflik. Apalagi di saat kita akan atau sudah
menjalani hubungan dengan individu lain, baik hubungan dengan teman, pacar,
maupun antara suami istri, pasti konflik akan selalu timbul. Mengapa konflik
itu terjadi? Setiap manusia memiliki perbedaannya masing-masing. Perbedaan
inilah yang memicu terjadinya sebuah konflik. Perbedaan kepentingan antar
individu, perbedaan pendapat, dan perbedaan yang lainnya. Dalam teori pertukaran
sosial menyatakan bahwa kepentingan pribadi tidak selalu dianggap buruk dan
dapat digunakan untuk meningkatkan suatau hubungan (West, Turner, 2008). Tidak semua
masalah menjadi sebuah malapetaka dalam hubungan tersebut, jika kita dapat
menanggapinya dengan positif. Sebaliknya jika ditanggapi dengan negatif maka konflik tersebut merupakan awal dari
kehancuran hubungan. Dalam kenyataanya yang ditemui sehari-hari kebanyakan
masalah menjadi malapetaka. Hal ini akan berujung pada kehancuran hubungan, dan
terkadang sulit untuk diperbaiki lagi. Terkadang
konflik tersebut dapat berimbas kepada orang lain. Misalkan konflik antara
sesama teman akan menyebabkan teman yang lain ikut membenci salah satu teman
tersebut, konflik dalam hubungan pacar akan melibatkan teman yang lain yaitu
temannya harus selalu bersedia untuk mendengar curhatannya tentang konflik
dengan pacarnya tersebut. Lebih parahnya lagi konflik antara suami istri yang akan
melibatkan anak-anak mereka dan masing-masing keluarga dari kedua belah pihak. Konflik
yang tidak terselesaikan dapat merusak lingkungan sosial sekitar sekaligus
orang-orang di dalamnya (Pegertian manajemen, 2013). Konflik dalam sebuah
hubungan tidak bisa dianggapa hal yang sepeleh karena dapat berdampak ke
hal-hal atau orang-orang disekitarnya.
Di era
modern ini, perceraian semakin sering terjadi. Bukan hanya pasangan lama
yang sudah menikah bertahun-tahun, namun juga pasangan muda yang baru saja
menikah.
Terkait dengan konflik, perceraian merupakan salah satu dampak dari konflik yang tidak terselesaikan akibat keegoisan masing-masing individu tanpa memikirkan konsekuensinya. Perceraian sebenarnya bukan suatu solusi yang tepat dalam konflik antara suami dan istri. Karena dengan adanya perceraian akan muncul konflik yang baru lagi. Konflik baru tersebut akan terjadi pada mereka lagi atau malah akan terjadi pada orang-orang yang sangat membutuhkan mereka.
Terkait dengan konflik, perceraian merupakan salah satu dampak dari konflik yang tidak terselesaikan akibat keegoisan masing-masing individu tanpa memikirkan konsekuensinya. Perceraian sebenarnya bukan suatu solusi yang tepat dalam konflik antara suami dan istri. Karena dengan adanya perceraian akan muncul konflik yang baru lagi. Konflik baru tersebut akan terjadi pada mereka lagi atau malah akan terjadi pada orang-orang yang sangat membutuhkan mereka.
Berikut adalah sebuah contoh kasus :
Minta hak asuh anak, Dea Mirella cibir Eel Ritonga
Merdeka.com
- Masalah baru dialami oleh Dea Mirella pasca bercerai dengan Eel Ritonga pada
2010 silam. Belakangan Eel meminta hak asuh atas anaknya, Melody Zahira Chielda
Ritonga (8). Namun permintaan tersebut langsung mendapat cibiran dari Dea.
"Saya
enggak banyak omong, orang tahu siapa saya dan Eel," kata Dea di bilangan
Pondok Labu, Jakarta Selatan (7/12). "Siapa sih yang ninggalin Melody.
Tiba-tiba beberapa tahun ninggalin mau diminta," lanjutnya.
Ditambahkan
oleh mantan personil grup vokal Warna itu, bahwa selama ini Eel juga tak
memberikan nafkah sebagaimana mestinya.
"Kok
nggak kasian sama anaknya. Sekarang mau ngambil Melody, ngasih makan aja ala
kadarnya," tuturnya.
Dea
meminta mantan suaminya itu untuk berkaca sebelum berucap. "Sekarang dia
(Melody) umur 8 tahun apa yang udah dia kasih? Ipad aja patungan saja sama
saya. Kalau minta hak perwalian ngaca dulu," tandasnya.
Sumber:
Seperti
yang telah dikatakan sebelumnya bahwa konflik dalam hubungan interpersonal akan
berdampak pada orang lain. Dalam kasus ini berdampak pada anak mereka. Anak
mereka juga akan menjadi kebingungan memilih antara kedua orangtuanya. Dan hal
ini juga akan berpengaruh pada proses perkembangan anak. Perceraian
bisa jadi salah satu hal yang paling mempengaruhi perkembangan anak (Ayahbunda, 2013 ). Apapun reaksi anak terhadap perceraian orang tuanya,
perkembangan emosional merupakan aspek yang paling terganggu. Selain itu
perkembangan konsep diri anak dapat saja
ternganggu karena menyaksikan orangtua yang kerap bertengkar.
Namun tak semua anak mesti sengsara karena perceraian ayah dan ibunya. Ada
juga anak dari keluarga bercerai tapi dapat bahagia dan tidak lagi menyimpan
kemarahan pada orang tua. Ini mungkin terjadi jika orang tua cepat menyadari
apa yang diperbuat dan tidak mengubah perlakuan mereka terhadap anak-anaknya.
Kesalahan mungkin dilakukan ayah dan ibu, tapi anak-anak tetap patut
mendapatkan kehidupan yang layak.
Masih
terkait dengan contoh kasus diatas, telah disebitkan bahwa percerain bukanlah
sebuah solusi dari sebuah konflik yang tepat, karena perceraian justru akan
menambah sebuah konflik yang baru lagi. Sebenarnya sebuah solusi itu berfungsi
untuk meredahkan emosi antara kedua belah pihak. Dalam kasus ini sangat jelas
kita lihat bahwa perceraian menimbulkan maslah baru lagi yaitu masing-masing
kedua belah pihak meminta hak asuh anak. Dan karena itulah anak merasa
tak dihargai orangtuanya sehingga membalas dengan bertindak semaunya dan
menjadi pembangkang, selalu melawan orangtua (Relationship,
2013)
Apa penyebabnya?
Sebenarnya
apa yang menjadi pemicu terjadinya suatu perceraian jika di tinjau lebih dalam
lagi? Mengapa banyak orang yang ingin dekat dengan
seseorang, berakhir di perceraian yang sering dipenuhi dengan kemarahan dan
kekecewaan? Banyak orang yang ingin menikah mencoba memperjuangkan suatu ikatan
yang kuat dan langgeng hanya berdasarkan pada emosi. Dalam banyak hubungan,
cinta dan penerimaan berlanjut sepanjang orang lain itu menemukan suatu tingkat
harapan tertentu. Jika perasaan sedang hangat, seorang suami dan istri bisa
membantu orang lain, mengabaikan suatu masalah dan karakter yang menyebalkan
dari partnernya, cukup komunikasi, dan masih mengekspresikan perasaannya.
Namun ketika
perasaan sedang mendingin, salah satu atau keduanya mendapati bahwa mereka
tidak memiliki kesediaan atau kemampuan untuk mencintai seseorang yang dengan
sangat jelas tidak sempurna. Tidak ada kebutuhan yang dipenuhi, yang
menyebabkan luka, menimbulkan keadaan membela diri, mengurangi komunikasi
positif, meningkatkan kesalahpahaman, memancing konflik, mengobarkan kemarahan
dan kepahitan. Jika pengampunan dan perbaikan hubungan tidak memutus rantai
permasalahan ini, kemampuan untuk saling mencintai sangatlah lemah.
Pola ini
hampir di semua hubungan bisa dihindari untuk sementara sepanjang hal-hal yang
memancing egoisme tidak ada atau telah diatasi. Namun, cepat atau lambat
kenyataan akan mengujinya. Dalam kebencian akan tujuan-tujuan terbaik
pasangannya, mereka akhirnya menyadari bahwa dua orang yang merdeka tidak
memiliki semua yang mereka perlukan.
Hiffington Post
(dalam Whooila, 2011) tercatat hasil statistik dunia mengenai peceraian ada 10
(sepuluh) negara dengan tingkat perceraian paling tertinggiyaitu, Rusia,
Belaris, Ukraina, Moldova, Kepulauan Cayman, Amerika Serikat, Bermuda, Kuba,
Lithuania, dan Republik Ceko. Dan penyebab terjadi perceraian berdasarkan
survey bahwa membangun sebuah keluarga dengan keyakinan masing-masing dan tidak
mengandalkan Tuhan.
Dalam Esensi
(2013) terdapat sepuluh penyebab terjadinya perceraian, yaitu:
1. Masalah
keuangan.
Masing-masing pihak harus selalu terbuka mengenai kebutuhan finansial
mereka. Sebenarnya masalah ini bukan masalah sebenarnya, ini lebih pada
komunikasi antar suami dan istri. Jadi,
bagaimana cara pasangan menghadapi masalah inilah yang bisa menjadi jalan
keluar.
2. Masalah
komunikasi.
Jika pasangan sudah memiliki masalah komunikasi sejak sebelum menikah, maka
kemungkinan besar problem itu akan menjadi semakin buruk setelah perkawinan. Dalam situasi ini, yang penting masing-masing
pihak memiliki niat untuk membahas
secara terbuka masalah dan kelemahan masing-masing. Tanpa komunikasi dua arah,
perkawinan tak akan bertahan lama.
3. Masalah
keluarga.
Hubungan antar anggota keluarga, orang tua dan anak, saudara sekandung,
saudara ipar atau adanya anak tiri, bisa
menjadi sumber masalah bagi hubungan suami istri. Sikap yang bijaksana adalah
bagian penting dari keberanian dalam menghadapi berbagai masalah keluarga dan
perkawinan.
4. Masalah
seks.
Seks merupakan bagian penting dalam perkawinan sekaligus juga bisa menjadi
sumber banyak masalah dalam perkawinan. Setiap perkawinan membutuhkan proses
penyempurnaan antara lain dengan aktivitas bercinta. Kegagalan dalam kehidupan sek yang sehat,
adanya jurang frekuensi hubungan seks atau seks yang tidak berkualitas, bisa
menjurus pada hancurnya perkawinan.
5. Kedekatan
dengan teman.
Hubungan pertemanan yang terlalu dekat baik oleh suami maupun istri bisa
juga menjadi sumber gangguan pada hubungan suami istri. Teman yang sejati seharusnya mampu
mengeratkan hubungan antar suami-istri.
6. Masalah
ketergantungan.
Narkoba, alcohol, judi, semua itu
adalah kebiasaan buruk yang membuat ketagihan dan ketergantungan dan
sangat merusak perkawinan. Meski tidak
disertai dengan tindak kekerasan, perilaku ketergantungan akan membuat
perkawinan menjadi hal yang mustahil.
Selain itu, ketergantungan juga bisa menjadi pangkal dari masalah
keuangan dalam rumah tangga.
7. Kekerasan
dalam rumah tangga.
Kekerasan atau penyiksaan dalam bentuk apapun tidak bisa diterima dalam
perkawinan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan dalam kata-kata, keduanya
sering menjadi penyebab hancurnya rumah tangga.
8. Masalah kepribadian.
Ada banyak tipe –tipe kepribadian yang bisa menyebabkan ketidakcocokan
antar pasangan. Baik ketidakcocokan
dalam hal seks, intelektualitas maupun emosi. Pasangan yang memiliki kebutuhan
berlebihan untuk disenangkan atau direndahkan pasangannya bisa menghalangi terjalinnya
komunikasi yang sehat.
9. Masalah
ekspektasi.
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan perkawinan sering
tergantung pada adanya harapan-harapan yang realistis dari masing-masing pihak
terhadap pasangannya. Jika ada harapan-harapan romantisme yang terlalu muluk
dan tidak realistis, maka hal ini bisa menjadi pangkal dari keretakan
suami-istri. Agar perkawinan dapat
bertahan, memang dibutuhkan tingkat kedewasaan dari suami mapun istri.
10. Masalah waktu.
Salah satu pihak harus selalu pandai
membagi waktu dengan pasangannya agar pasangannya tidak merasa asing. Pekerjaan
dan jadwal kegiatan di rumah seringkali tidak saling bersesuaian. Suami maupun
istri, masing-masing memerlukan waktu kebersamaan maupun waktu untuk diri
sendiri. Dan keterampilan untuk mengimbangi kedua hal tersebut sangatlah
penting dalam menjaga keutuhan perkawinan.
Ada beberapa saran agar terhindar dari sebuah perceraian, antar lain:
1.
Membangun atau memulai sebuah hubungan dengan Tuhan.
Menganggap pasangannya adalah titipan dari Tuhan. “Pernikahan, memberikan nasihat dalam hidup kita, Dia
ingin agar kita mengenalNya, berhubungan denganNya, dan percaya kepadaNya"
(Rainey,2011 )
2.
Dalam memilih
pasangan harus memiliki komitmen yang sama. Cinta bukanlah syarat tunggal untuk
menikah.
3.
Harus saling mengalah dalam
menghadapi sebuah konflik. Lebih baik mengorbankan diri jika dibandingkan
dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai.
4.
Harus selalu bekerja sama dalam
menghadapi segala ujian dalam hubungan tersebut. Mencari solusi yang tepat
untuk menyelesaikannya. Dan menyelesaikannya juga harus dengan pikiran yang
tenang.
5.
Membangun pola komunikasi yang
baik dan efektif. Setiap konflik yang dihadapai akan terasa mudah jika saling
bertukar pikiran.
Dapat disimpulkan bahwa dalam
kehidupan interpersonal kita ini tidak
dapat lepas dari sebuah konflik, karena kita adalah makhluk sosial dengan
masing-masing pemikiran yang berbeda-beda, maka dari itu harus pandai-pandai
mencari sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi konflik tersebut. Demi langgengnya suatu pernikahan, kerjasama
sangat diperlukan dan keduanya harus menolak banyak harapan-harapan pribadi
mereka. Pengorbanan diri harus menggantikan keegoisan. Sebagai manusia ciptaan
Tuhan, selalu patut bersyukur kepada-Nya atas semua kehidupan yang
diberikan-Nya. Baik dalam suka maupun Duka. Tuhan tidak pernag meninggalkan
orang-orang yang membutuhkan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar